Mendirikan pendapa di tanah kelahiran Samin Surosentiko

Menjaga spirit akhlak Samin: Kebersamaan dan Kerukunan

Foto: Gatot Aribowo

Pendapa pengayoman Mbah Samin Surosentiko tengah dalam pengerjaan.

Selasa, 01 Juni 2021 20:50 WIB

KUMARI tengah duduk di balai-balai di salah satu bagian pendapa beratap joglo saat kami, rombongan 5 orang dari Blora berkunjung pada Selasa siang, 1 Juni 2021. Ia berdiri menyambut kedatangan kami, diikuti beberapa orang yang sebelumnya turut duduk di balai-balai. Bersamaan jabat tangan, sebatang pohon dewandaru (ceremai Belanda) setinggi setengahan meter berdahan banyak dan berdaun rimbun ia terima, juga empat batang pohon kelengkeng. Pohon dewandaru pesanan Gunretno dari Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Sementara pohon kelengkeng inisiatif dari kami untuk ditanam di sekeliling pendapa.

Gunretno inilah yang ada di depan dalam memprakarsai adanya pendapa di tanah kelahiran Samin Surosentiko di Desa Kediren, Kecamatan Randublatung, tepatnya di Dukuh Ploso Wetan. Kang Gun, begitu ia sering disapa, pulang ke desanya saat kami datang berkunjung ke pendapa yang masih proses dikerjakan. Namun ada lebih 5 orang dari Pati dan Kudus yang menetap sementara mendirikan tenda, masih merampungkan pembangunan pendapa dan fasilitasnya. Saat kami datang sebagian mereka sedang menyelesaikan bangunan dapur dan perpustakaan di sudut belakang kanan areal pendapa. Dua dari yang tinggal, di antaranya perempuan muda bertugas menyiapkan makan, lainnya adalah pekerja bangunan dari komunitas pelestari yang ada di Pati dan Kudus. Tiga tenda didirikan di belakang pendapa, di samping bangunan dapur sebagai tempat bermalam.

Kumari sendiri adalah pelestari Samin dari komunitas pelestari yang ada di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Blora. Setiap pagi ia datang hingga sore hari, membantu pekerjaan pembangunan. Beberapa orang pelestari dari berbagai tempat, terutama di Kecamatan Kedungtuban dan Kradenan setiap hari hingga sore juga berdatangan turut membantu, atau sekedar menemani menjaga kebersamaan. Warga sekitar juga kerap datang setiap harinya. Rumah salah seorang warga pedukuhan Ploso Wetan yang berdekatan dengan pembangunan pendapa dijadikan tempat memasak. Siang itu kami disuguhi hidangan sederhana berlauk krupuk untuk makan siang, selain buah sawo dan melon. Hidangan ini didapat dari gotong royong pelestari, juga warga yang turut dalam kebersamaan dan kerukunan.

Bangunan pendapa ini menempati areal seluas 26 meter kali 18 meter. Bangunan pendapa beratap joglo seluas 11 meter kali 10 meter didirikan pada pekan sebelumnya, Senin Kliwon, 24 Mei 2021. Sementara dimulainya kerja pada Rabu Legi, akhir Maret 2021, tepat dua minggu setelah pemilik tanah menyerahkan lahan.

“Mbah Ngadimah menyerahkan tanah ini dengan sukarela kepada sedulur sikep tanggal 15 Maret 2021,” kata Bambang, warga Desa Sumber, Kecamatan Kradenan yang turut aktif dalam pembangunan pendapa tersebut.

Tanggal tersebut, 15 Maret juga dikenal dengan penangkapan Samin Surosentiko oleh Belanda pada tahun 1907.

Mbah Ngadimah adalah pemilik sertifikat tanah. Kakek-neneknya mendapatkan tanah tersebut dari pihak Samin Surosentiko dengan harga 2 ekor kerbau. “Pada November 2019,” kata Bambang, “sedulur sikep mendatangi Mbah Ngadimah untuk nembung tanah tersebut, didirikan bangunan pendapa.”

Nembung merujuk pada permintaan kepada Mbah Ngadimah untuk tanah tersebut diberikan kepada komunitas pelestari, didirikan bangunan pendapa. Permintaan disampaikan setelah bertahun-tahun sebelumnya sudah ada niat dan keinginan dari komunitas pelestari mendirikan bangunan pendapa, yang kelak akan mereka sebut sebagai Pendapa Pengayoman Mbah Samin Surosentiko untuk mengayomi kebersamaan. Meski awalnya sempat menolak kendati dengan dibeli, Mbah Ngadimah akhirnya merelakannya tanpa dibeli sebagai tanda turut dalam pembangunan pendapa pengayoman.

Penyerahan tanah untuk didirikan pendapa pengayoman yang akan digunakan untuk mengayomi kebersamaan didokumentasikan dalam sebuah tembang. Anda, pembaca dapat menikmati tembangnya di bawah ini.

Bangunan dikerjakan secara kebersamaan, gotong royong. Saat mendirikan pendapa, ratusan orang pelestari datang dari berbagai tempat: Kudus, Pati, dan Blora. Dari Kudus dan Pati, rombongan dibawa 2 bus besar. Warga sekitar juga turut serta.

Joglo didatangkan dari Pati. Genteng berkualitas bagus yang diinjak tak ambrol, Sokka didatangkan dari Kudus. Sementara bangunan rumah yang berdiri di areal dibeli, dan kayu-kayunya diperbarui untuk dijadikan tiang pendapa. Atap dibuat plafon kepang dengan anyaman bambu yang didatangkan dari Yogyakarta.

Bahan-bahan bangunan sumbangan dari berbagai pihak berdatangan, mulai dari paving hingga pasir hitam dan tanah urukan serta bata merah yang dipakai untuk bangunan dapur dan perpustakaan. Tapi dari berbagai sumbangan ini, yang menarik adalah sumbangan panel surya, berikut perlengkapan kelistrikannya.

“Listrik di pendapa pengayoman ini menggunakan tenaga surya. Kami ingin kemandirian tanpa merepotkan tetangga warga untuk mengaliri listrik,” kata Kumari.

Panel surya baru dua hari sebelum kedatangan kami dipasang. Dimensi panel berukuran 2 meter kali 1 meter dengan bobot 22 kilogram diletakkan di atas genteng pendapa. Aki penyimpanan listrik berkapasitas 1.200 watt masih ditempatkan di pendapa, tak jauh dari tempat kami duduk melantai bertikar terpal berbincang dengan Kumari. Nantinya aki akan ditempatkan di bangunan dapur atau perpustakaan.

Selain dapur dan perpustakaan yang bangunannya jadi satu, fasilitas di areal bangunan pendapa juga ada toilet 2 kamar. Air mengalir lancar, disimpan dalam tangki air berkapasitas besar.

Jika anda, pembaca ingin turut membersamai pembangunan pendapa pengayoman, atau sekedar mengunjungi pekerja dapat datang ke lokasi yang bisa ditempuh sejauh 1 kilometer dari lorong Kediren di Jalan Randublatung-Cepu. Lorong ini dapat anda temui sejauh kurang  dari1 kilometer dari Pasar Wulung Randublatung. ***