INTAN Anjasari, 34 tahun, tengah sibuk memegang rambut instalasi Dewi Tembang yang potongan setengah badannya menghiasi backdrop panggung. Serasa ada yang kurang pas dalam penataan rambut dalam seni instalasi Dewi Tambang. Tangan kanannya menggapai rambut Dewi Tambang dan menatanya biar kelihatan rapi. Di belakangnya, Muhammad Sabiqin yang berusia lebih muda dibantu temannya tengah menggotong potongan batang pisang sepanjang lebih 2 meter, membawanya ke tengah panggung. Mereka bertiga sedang disibukan menata panggung untuk malamnya dipakai acara pembukaan Nyambong Roso ke-7, Jumat, 24 Oktober 2025.
"Ini kali kedua acara Nyambong Roso diadakan di desa kami," kata Kikin, panggilan akrab Muhammad Sabiqin. Ia warga RT. 8/RW. 2 Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Ia mengkoordinir warga lokal, termasuk Intan, untuk membantu menyiapkan acara. Ia pula yang memberi nama sosok yang menjadi instalasi backdrop panggung, Dewi Tambang. Akronim (kependekan) dari Desa Wisata Tempellemahbang.
"Acara pertama di desa kami dulu, yakni Nyambong Roso ke-5 bertepatan dengan peluncuran desa wisata di tempat kami," lanjut Kikin.
Jumat malam acara akan dibuka, dirangkaikan dengan Ruwat Sendang Mahbang, dilanjutkan dengan sarasehan, dan ditutup dengan nonton bareng sinema. Esoknya, Sabtu siang akan diadakan acara workshop yang akan diisi dengan batik tulis, batik cukil, kolase plastik, hingga mewarnai. Sorenya dilanjut Reogkan Sendang. Malamnya akan diisi dengan panggung seni, dari tari-tarian hingga barongan sampai panggung musik akustik, dan drama teater. Minggunya akan ditutup dengan senam dan penanaman pohon.
"Nyambong roso adalah acara kolektif untuk mengumpulkan kawan-kawan pegiat seni dan pecinta lingkungan hingga komunitas lainnya. Acara ini tahunan untuk menjaga kebersamaan antar komunitas yang ada di Kabupaten Blora. Hingga tahun ini sudah ke-7 di tahun keenam. Tiap tahun kita adakan sejak 2020, yang pertama kali kita adakan di Waduk Greneng. Tahun 2021 kita adakan 2 kali. Harinya kita adakan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Biasanya sebelum Nyambong Roso kita ada Harmony, yakni acara menuju Nyambong Roso. Setahunnya Harmony kita adakan 2 kali. Hanya saja di tahun 2024 karena ada pemilu, tidak kita adakan acara Harmony. Pada tahun ini, Harmony kita adakan sekali di Sawahan, Jepon," jelas Alif Bengkong, salah satu penggagas acara Nyambong Roso yang muncul dari Komunitas Perpustakaan Jalanan Blora.
Karena sifatnya kebersamaan, para pegiat seni yang manggung tidak mendapat bayaran sama sekali. Bahkan para pegiat seni atau komunitas lain yang mengisi acara ada yang mengeluarkan ongkos. Sebagian besar ongkos dibiayai dari penjualan kaos. Mereka yang beli kaosnya adalah anggota komunitas dan masyarakat yang peduli dengan acara ini.
"Hasil penjualan kaos bisa kita pakai untuk biaya acara hingga selesai. Kalau penjualan kaos minim, acara akan disesuaikan dengan anggaran. Modal pembuatan kaos dari kantong saya pribadi. Jadi kalau ada yang menyebut acara ini berbiaya besar, itu keliru besar," terang Alif.
Soal pembiayaan, komunitas Alif ini punya prinsip terbuka. Namun sifatnya tidak tranksasional sponsor.
"Pernah kita mendapat tawaran dari Indonesiana. Tapi saya menolak jika dalam sosialisasi kami di media sosial ada logo sponsor. Silakan kalau mau membiayai acara, tapi tidak ada logo sponsor. Tapi akhirnya tidak jadi, sehingga yang kita genjot adalah penjualan kaosnya untuk membiayai acara," kata Alif.
Selain sebagai wadah ekspresi pegiat seni dan komunitas pecinta alam, Nyambong Roso juga punya misi membawa kepentingan ekonomi kerakyatan.
"Seringnya kita mempromosikan desa wisata. Jadi kita adakan di desa-desa wisata yang ada di Kabupaten Blora dengan melibatkan warlok (warga lokal) desa. Pernah kita adakan di Desa Tempuran, Kecamatan Blora, juga Desa Nglobo, Kecamatan Jiken," imbuh Alif.
Alif mengatakan, harapan adanya acara Nyambong Roso adalah berbagi rasa, berbagi ide, berbagi cerita, hingga berbagi cinta.
"Baik cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, hingga cinta ke alam semesta dengan merawat semesta menjaga kehidupan. Dengan tersambungnya rasa, ide, cerita, hingga cinta bisa bermanfaat untuk masyarakat setempat, setidaknya buat keluarga masing-masing," ujar Alif.
Merawat alam ini sejalan dengan pikiran Kikin dan Intan. Keduanya antusias dengan diadakannya Nyambong Roso ke-7 di desanya.
"Sendang bagi penduduk kami sering menjadi tempat sedekah bumi. Dengan acara ini kami merawat sendang tidak hanya pas sedekah bumi tapi juga di luar sedekah bumi," kata Intan.