Sabtu, 09 Agustus 2025 12:54 WIB
BLORA (wartablora.com)—Pada tahun 1949, terbit novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer. Secara kewaktuan, karya fiksi ini menceritakan masa menjelang berakhirnya penjajahan Jepang atas Indonesia hingga masa awal kemerdekaan. Sedangkan tempat berlangsungnya cerita ialah Blora dan sekitarnya. Nukilan dari karya fiksi tersebut, yang mengisahkan peristiwa dramatik di Blora tepat pada hari proklamasi kemerdekaan di Jakarta, diolah menjadi pergelaran panggung oleh Perkumpulan Seni Nusantara Baca (PSNB) yang akan digelar pada Sabtu, 9 Agustus pukul 19.00 WIB di pendapa rumah dinas Bupati Blora.
Diberi tajuk Perburuan Pramoedya dari Blora ke Jakarta, pergelaran yang kerja samanya dengan Rumah Literasi (RuLi) serta Dewan Kebudayaan Blora ini tidak hanya menampilkan estetika melainkan juga menggugah kesadaran sejarah dan budaya, serta semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Pergelaran ini merupakan alih wahana kreatif (dari sastra tulis ke pertunjukan) yang memadukan pembacaan dramatik, seni tari kontemporer, musik gesek, piano, seni rupa dan visual, serta elemen dokumentasi sejarah. Versi awal dari pergelaran ini, bertajuk Perburuan Pramoedya, tersaji pada 16 Oktober 2023 di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta, yang berhasil menyedot perhatian dan respons positif dari publik.
PSNB merancang proyek ini sebagai ruang edukatif sekaligus reflektif untuk mengenalkan kembali nilai-nilai perjuangan, kebebasan, dan kemanusiaan. Di balik setiap adegan, publik diajak untuk tidak hanya menonton, tetapi juga merenungkan bagaimana perjuangan, pengorbanan, kegetiran, jiwa kesatria, penyesalan dan permaafan yang melibatkan beberapa tokoh penting dalam novel yang ditampilkan dalam pergelaran ini.
“Ini bukan hanya soal menghadirkan pertunjukan seni, tapi bagaimana seni membicarakan sastra dan nilai-nilai kebangsaan yang relevan hingga hari ini,” jelas Engelina Prihaksiwi, Ketua Perkumpulan Seni Nusantara Baca sekaligus Produser dalam pergelaran ini.
Salah satu keunikan Perburuan Pramoedya dari Blora ke Jakarta adalah pendekatannya yang kolaboratif dan lintas generasi. Seniman yang terlibat berasal dari berbagai disiplin seperti seni teater, tari, musik, dan seni rupa, serta lintas wilayah dari Blora hingga Jakarta. Proses kreatifnya melibatkan diskusi, riset, dan pengalaman kolektif yang menjadikan pertunjukan ini sebagai wadah regenerasi dan transfer pengetahuan di kalangan komunitas seni.
Blora dan masyarakatnya, sebagai tempat kelahiran Pramoedya dan latar sejarah novel PERBURUAN, menjadi titik penting untuk memulai perjalanan program ini. Selanjutnya, masyarakat Jakarta terutama kalangan muda menjadi arah sapaan berikutnya—khususnya mereka yang belum terlalu mengenal karya-karya Pramoedya. Tak hanya penonton umum, audiens juga akan meliputi akademisi, kritikus seni, pengamat budaya, serta komunitas sastra. Di Jakarta, pergelaran akan berlangsung di Teater Salihara, pada 23 dan 24 Agustus 2025.
PSNB juga menghadirkan program pendamping berupa diskusi publik, pemutaran arsip sejarah, lokakarya, hingga dokumentasi digital. Tujuannya adalah agar pengalaman menonton tidak berhenti di ruang teater, tetapi berlanjut dalam bentuk refleksi dan pembelajaran yang lebih luas. Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif masyarakat untuk mengenal ulang sejarah perjuangan bangsa melalui medium seni.
Tantangan utama dalam produksi ini adalah bagaimana menginterpretasikan teks sastra klasik menjadi pertunjukan yang tetap setia pada pesan aslinya namun mampu menjangkau audiens masa kini. Tak hanya itu, upaya meramu berbagai elemen seni agar padu secara harmonis juga menjadi proses kreatif yang memerlukan ketelitian dan keberanian.
“Bagaimana kita bisa menjembatani dunia teks yang kuat seperti novel Perburuan karya Pramoedya yang berlatar di Blora tepat pada saat Proklamasi pada 17 Agustus 1945 dikumandangkan di Jakarta dengan ekspresi panggung yang hidup dan dinamis, itu adalah tantangan sekaligus peluang besar,” ujar Penulis Naskah sekaligus Sutradara dalam pertunjukan ini, Landung Simatupang.
Secara strategis, program ini memiliki dampak berlapis. Dari sisi edukasi, ia menjadi media pembelajaran sejarah yang efektif. Dari sisi seni, ia memperkaya khazanah pertunjukan Indonesia dengan pendekatan multidisiplin. Sementara dari sisi sosial, program ini memperkuat jejaring antar seniman serta mendorong regenerasi kreatif di tengah masyarakat yang terus berubah.
Akhirnya, Perburuan Pramoedya dari Blora ke Jakarta membuktikan bahwa karya sastra besar Indonesia masih memiliki nyawa yang panjang ketika disentuh dengan cara yang segar dan relevan. Pergelaran ini akan membuka ruang bagi perjumpaan nilai, refleksi kesejarahan bangsa, dan harapan untuk masa depan seni dan budaya yang lebih inklusif dan kontekstual. Pergelaran ini, didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Abadi Kebudayaan.