Semarak Haul Sunan Pojok

Dari Jenang hingga Ziarah Makam

Foto: Gatot Aribowo

Pelajar SMP Islam Plus Al-Banjari Banjarejo Blora melakukan ziarah ke makam Sunan Pojok, Senin (16/10/2017).

Senin, 16 Oktober 2017 13:19 WIB

RATUSAN pelajar dari SMP Islam Plus Al-Banjari Banjarejo Blora melakukan ziarah ke makam Sunan Pojok, Senin, 16 Oktober 2017. Didampingi gurunya, mereka khusyuk mengikuti bacaan-bacaan Al-quran yang dibacakan di depan makam Kanjeng Sunan yang juga dikenal dengan nama Pangeran Surobahu.

Tiap tahun, berdekatan dengan haul Sunan Pojok, makam ini banyak diziarahi warga. Beberapa ada yang berdatangan dari luar kota.

Makam ini, sebelum dirombak, tak terlihat oleh warga yang melintas di alun-alun Blora dari arah selatan. Dulunya terhalang oleh kios-kios dan perumahan toko. Dengan dibongkarnya kios pertokoan serta dibuatkan pendopo, makam itu kini mudah dijangkau. Dulunya makam bisa dijangkau dari lorong sempit tak terlihat, yang tembus ke Jalan KH Ahmad Dahlan.

Rencananya, pendopo makam ini akan diresmikan pada puncak haul yang dilakukan pada Selasa, 17 Oktober 2017. Peresmian akan dilakukan Bupati Blora Djoko Nugroho, dirangkaikan dengan pengajian umum dari KH. Agus Ali Masyhuri pada Selasa malam.

Rangkaian haul ini sendiri akan dimulai pada Senin malam dengan acara khotmil Quran Bin Nadlor dan pembukaan kelambu makam Sunan Pojok. Esoknya, Selasa, hingga siang hari digelar khotmil Quran Bil Ghoib, dilanjutkan tahlil umum bersama jajaran pejabat di Kabupaten Blora dan tausiyah dari KH. Abdul Wahid. Acara terakhir itu akan digelar hingga Selasa sore. Baru malamnya, mulai jam 8 diadakan peresmian.

Mengiringi rangkaian acara haul, di jalanan disemarakkan dengan pasar malam. Jajanan jenang dari pedagang yang mremo dari Demak ada di sepanjang jalan depan ruko Mustika. Salah satu yang mremo ini adalah Bu Murtini dari Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak.

"Ini semua," katanya sambil menunjuk berkeliling di pedagang-pedagang jenang, "dari Demak."

Jenang yang dijajakan ada berbagai rasa. Mulai dari rasa kelapa muda, moka, nangka, juga duren. Per kilonya dijual dengan harga Rp18 ribu.

"Kalau yang bungkusan kecil-kecil itu jenang dari Kudus," katanya. Jenang ini dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogramnya.

Selain jenang, pedagang berbagai jenis barang mulai mendirikan tenda-tenda jualannya.

Jajanan jenang yang didatangkan dari Demak turut menyemarakkan haul Sunan Pojok. (Foto: Gatot Aribowo)

Dikutip dari situs resmi Pemkab Blora, Sunan Pojok adalah seorang tokoh besar dan pejabat tinggi Kerajaan Mataram Islam yang mempunyai jasa besar untuk Blora. Sunan Pojok yang mempunyai nama kecil Abdurrohim merupakan pejabat tinggi di bidang militer Kerajaan Mataram Islam yang saat itu dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumo yang merupakan raja ketiga Mataram Islam sekitar tahun 1613 - 1645.

Nama gelar Sunan Pojok diantaranya adalah Pangeran Pojok, Pangeran Surobahu, Pangeran Surabaya, Pangeran Sedah, Syekh Amirullah Abdurrohim serta wali Pojok Blora. Ada juga yang menyebutnya Mbah Benun.

Sebagai panglima perang, Sunan Pojok ditugaskan oleh raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo untuk perang melawan VOC di Batavia. Sunan Pojok bersama pasukannya berhasil menang pada tanggal 26 November 1626. Kemenangan itu adalah satu-satunya melawan VOC yang dimenangkan pasukan Mataram.

Dalam buku Babad Ngeksi Gondo dan Babad Mentawis menceritakan bahwa Sultan Agung Hanyokrokusumo pernah mengirim panglima perang bernama Surobahu ke Tuban yang saat itu sedang dilanda pemberontakan. Sangat diyakini Sunan Pojok lah yang saat itu dikirim. Dengan memimpin banyak pasukan, Sunan Pojok berhasil memadamkan pemberontakan itu. Namun saat akan kembali ke istana di Yogyakarta, Sunan Pojok jatuh sakit sehingga memutuskan untuk singgah di Blora.

Sunan Pojok yang menderita sakit dan kelelahan akhirnya meninggal. Semula Sunan Pojok dimakamkan di Dusun Pojok, Desa Buluroto Kecamatan Banjarejo Blora. Kemudian makam beliau dipindahkan puteranya yakni RM.Sumodito yang diangkat sebagai Bupati Blora pertama kali oleh Sultan Hanyokrokusumo, dan makam nya dipindah ke Makam Gedong Blora yang saat ini berada di selatan Alun-alun.

Selama hidupnya, Sunan Pojok mengabdikan dirinya kepada pemerintah Kerajaan Mataram. Sunan Pojok juga terkenal welas asih, selain sebagai panglima perang, selama di Blora beliau menyebarkan agama islam dengan ketulusan dan kasih sayang. Oleh karena itu Sunan Pojok sangat dikenal masyarakat saat itu. Berbagai jabatan pernah diembannya, mulai penglima perang, adipati dan lainnya. Namun semua jabatan itu dilepasnya karena Sunan Pojok lebih memilih menjadi seorang pendakwah dan penyebar agama.

Makam Sunan Pojok berada di selatan Masjid Agung Baitunnur Blora atau di sebelah selatan Alun-alun Blora. Makam Sunan Pojok berada di kawasan yang asri, di komplek makam tersebut juga ada makam para prajurit perang yang setia mengabdi kepada Sunan Pojok. (*)