SAYA memutuskan untuk menonton sendiri tayangan bioskop Laut Bercerita di Cineplex Blora. Kurang mengasyikan memang, menonton sendiri. Seringnya saya mengajak kemenakan. Dua tayangan bioskop sebelumnya bertema anak dan tema komik. Saat tayang Jumbo saya mengajak 1 anak, 1 anak remaja, dan 1 remaja dewasa. Berikutnya saat tayang Spiderman terbaru, Brand New Day.
Saat tayang film bertema pendidikan sejarah, kemenakan remaja dewasa tidak sedang libur kuliah. Daffa, salah satu kemenakan yang sempat pulang kampung libur hari tenang sebelum semesteran tak bisa menemani. Pasalnya Sabtu pagi ia sudah balik ke kota kampusnya, Solo. Sabtu siang akhirnya saya pesan tiket, sendirian untuk Sabtu malam, 31 Oktober 2026.
Saya tidak sendirian di tengah puluhan penonton yang dominan berpasangan. Ada juga lelaki dewasa yang nonton sendirian. Paling banyak berpasangan, anak-anak muda yang tampak kuliahan. Ada juga seorang ibu yang mengajak anak remajanya. Ada pula sekeluarga dengan 2 anak perempuan remaja.
"Peminatnya lebih ramai ketimbang genre horor," kata petugas yang berjaga di konter depan tempat pemesanan tiket dan jajanan-minuman.
Laut Bercerita adalah film yang diangkat dari novel sejarah karangan Leila S. Chudori, wartawan Tempo. Sebagai novel, karya ini adalah fiksi. Sebagai sejarah, fiksi terinspirasi dari peristiwa yang pernah terjadi dan nyata. Peristiwa sejarah itu adalah perlawanan anak-anak muda mahasiswa yang bergerak bawah tanah terhadap rezim tentara yang represif pada dekade 1990-an. Perlawanan itu berujung pada penculikan aktivis dan hilangnya sebagian mereka yang tak kembali pulang.
Sebagai sebuah fiksi, anak muda mahasiswa itu bernama Biru Laut sebagai tokoh utamanya, diperankan Reza Rahardian. Ia lahir dari keluarga yang melek informasi. Ayahnya wartawan, dan ibunya jurnalis foto. Ekosistem di rumahnya terdidik untuk gemar membaca dan rajin menulis. Saat memasuki dunia mahasiswa pada awal 1990-an di Yogyakarta, Biru Laut mulai mengenal dunia aktivisme. Ia direkrut seniornya yang seorang perempuan, Kasih Kinanti yang diperankan Dian Sastrowardoyo. Bumbu asmara pun mewarnai fiksi sejarah itu.
Semula saya membayangkan Biru Laut akan menjalin asmara dengan Kasih Kinanti. Seorang gadis pemberani yang jadi terdepan dalam dunia aktivismenya Biru Laut. Namun penulis novel menghadirkan sosok Ratih Anjani, aktivis juga yang low profil dan memiliki darah seni. Jika Kasih Kinanti mengambil jalur perlawanan dengan tulisannya, Ratih Anjani yang diperankan Eva Celia menggunakan lukisannya untuk melawan.
Kelak Ratih Anjani pun menjadi bagian dari keluarga Biru Laut untuk saling menguatkan kala Biru Laut dinyatakan hilang dalam penculikan.
Sebagai sebuah fiksi, Laut Bercerita memang tidak bisa dijadikan acuan untuk pembaca novelnya dan penonton filmnya untuk melek sejarah. Setidaknya pembaca novel atau penonton film perlu mengakumulasi pengetahuan sejarahnya dari bacaan-bacaan non fiksi. Atau menonton tayangan-tayangan podcast yang menghadirkan para pelaku sejarahnya yang masih segar bugar. Film fiksi sejarah tetap diperlukan untuk semakin melibatkan ikatan emosional terhadap peristiwa sejarah. Empati akan terbangun sebagai sebuah perlawanan terhadap rezim yang melanggar prinsip-prinsip bernegara yang diletakan The Founding Parents.
Jika Biru Laut menyebut membaca adalah melawan, Kasih Kinanti menyatakan menulis adalah melawan, maka penonton film bisa mendeklarasikan: empati adalah melawan.
Bagaimana penonton bisa merasakan kepedihan seorang bapak dan ibu yang kehilangan anaknya, diculik dan dihilangkan oleh negara. Bagaimana juga penonton merasakan ketegaran seorang adik yang kehilangan kakaknya. Bahkan merasakan bagaimana harapan seorang Ratih Anjani yang kehilangan pacar dan teman-temannya.
Karena yang hilang dari anak-anak bangsa saat ini adalah empati sebagai sesama anak bangsa.
Empati adalah melawan negara yang membunuhi anak-anak bangsanya di Stadion Kanjuruhan dengan biadabnya. Empati adalah melawan negara yang tidak adil dengan kaum tertindasnya. Empati adalah melawan negara yang sewenang-wenang terhadap rakyat bangsanya.